Salah satunya adalah Tedy
Jusuf
( Him Tek Ji ) Tedy lahir di Bogor pada 24 Mei 1944. Him
Tek Ji berusia 10 tahun ketika ia melihat tentara pertamanya
yang sesungguhnya di sebuah kamp Tentara Nasional Indonesia (TNI) ditempatkan
di dekat sekolahnya di Jakarta Utara di mana ia dibesarkan. Setiap
hari dia pergi untuk melihat para tentara berlatih dan dia tahu suatu hari dia
akan menjadi seorang prajurit.Sesuai
dengan impian masa kecilnya .
Tedy pertama
kali bersekolah di sebuah sekolah menengah Tionghoa di Pa Hwa
(Sekolah Tionghoa Patikuan) sampai tingkat SLTP. Dia kemudian pindah ke sekolah
negeri dan lulus pada tahun 1962 di jurusan sains. Him Tek Ji mendaftar di
akademi militer ketika dia selesai sekolah. Dia lulus pada tahun 1965
sebagai Letnan Teddy Jusuf.
Meskipun
mengalami banyak diskriminasi di hari-hari awal di ketentaraan,Tedy naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal pada tahun 1994 dan
diangkat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia pada tahun 1996 mewakili Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia saat itu.
Posisi penting yang pernah dijabat
oleh Tedy Jusuf dalam karier kemiliterannya di antaranya:
- Wakil Komandan Batalion Infanteri 507 Kodam V Brawijaya
- Komandan Detasemen Tempur RTP 16 di Timor Timur
- Komandan Kodim 0503/Jakarta Barat
- Asisten Perencanaan Kodam IV Diponegoro
- Komandan Korem 131/Santiago, Manado
Tedy akhirnya diminta untuk pensiun
dari dinas kemiliteran aktif pada tahun 1999. Namun, selama era pemerintahan Soeharto,
dia tidak dikenal sebagai seorang etnis Tionghoa.
Tedy
Jusuf merupakan salah satu tokoh pendiri yang ikut mendeklarasikan berdirinya Paguyuban Sosial Marga Tionghoa
Indonesia pada tanggal 28 September 1998 dan menjabat sebagai Ketua
Umum untuk periode 1998-2000. “Sebagai ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa
Indonesia, saya melihat tidak ada penekanan khusus untuk mempromosikan
identitas baru Tionghoa-Indonesia atau memberi komunitas peran yang lebih besar
sehingga mereka dapat membuktikan bahwa mereka benar-benar warga negara
Indonesia.”
Selain
itu Dia pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia tahun 1995-1999 dari Fraksi ABRI saat itu.Setelah lengsernya Soeharto, Tedy menjadi aktif
dalam komunitas Tionghoa. Dia kemudian menjadi ketua dari Paguyuban Sosial Marga Tionghoa
Indonesia (PSMTI), salah satu organisasi kemasyarakatan Tionghoa
Indonesia yang terbesar yang didirikan pada tahun 1998. Organisasi ini
merupakan organisasi sosial etnis Tionghoa pertama era pasca-Soeharto yang
memiliki anggota berlatar pendidikan Tionghoa dan Indonesia di Jakarta.