Senin, 10 September 2018

Tedy Jusuf ( Him Tek Ji )


perjuangan indonesia tidak terlepas dari bantuan berbagai golongan masyarakat yang salah satunya itu adalah masyarakat Tionghoa. Perjuangan warga Tionghoa untuk kemerdekaan Indonesia tidak berbeda dengan perjuangan suku-suku yang lain. Semasa perang kemerdekaan 1945-1949 banyak pejuang keturunan Tionghoa yang terlibat dalam pertempuran melawan Belanda di garis depan, garis belakang, ataupun di daerah pendudukan Belanda. Para veteran tersebut ditemui di sejumlah daerah, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, Sumatera dan daerah lain di Indonesia.

Salah satunya adalah Tedy Jusuf ( Him Tek Ji ) Tedy lahir di Bogor pada 24 Mei 1944. Him Tek Ji berusia 10 tahun ketika ia melihat tentara pertamanya yang sesungguhnya di sebuah kamp Tentara Nasional Indonesia (TNI) ditempatkan di dekat sekolahnya di Jakarta Utara di mana ia dibesarkan. Setiap hari dia pergi untuk melihat para tentara berlatih dan dia tahu suatu hari dia akan menjadi seorang prajurit.Sesuai dengan impian masa kecilnya      .
 Tedy pertama kali bersekolah di sebuah sekolah menengah Tionghoa di Pa Hwa (Sekolah Tionghoa Patikuan) sampai tingkat SLTP. Dia kemudian pindah ke sekolah negeri dan lulus pada tahun 1962 di jurusan sains. Him Tek Ji mendaftar di akademi militer ketika dia selesai sekolah. Dia lulus pada tahun 1965 sebagai Letnan Teddy Jusuf.
Meskipun mengalami banyak diskriminasi di hari-hari awal di ketentaraan,Tedy naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal pada tahun 1994 dan diangkat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia pada tahun 1996 mewakili Angkatan Bersenjata Republik Indonesia saat itu.
Posisi penting yang pernah dijabat oleh Tedy Jusuf dalam karier kemiliterannya di antaranya:
Tedy akhirnya diminta untuk pensiun dari dinas kemiliteran aktif pada tahun 1999. Namun, selama era pemerintahan Soeharto, dia tidak dikenal sebagai seorang etnis Tionghoa.
Tedy Jusuf merupakan salah satu tokoh pendiri yang ikut mendeklarasikan berdirinya Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia pada tanggal 28 September 1998 dan menjabat sebagai Ketua Umum untuk periode 1998-2000. “Sebagai ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia, saya melihat tidak ada penekanan khusus untuk mempromosikan identitas baru Tionghoa-Indonesia atau memberi komunitas peran yang lebih besar sehingga mereka dapat membuktikan bahwa mereka benar-benar warga negara Indonesia.”
Selain itu Dia pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia tahun 1995-1999 dari Fraksi ABRI saat itu.Setelah lengsernya Soeharto, Tedy menjadi aktif dalam komunitas Tionghoa. Dia kemudian menjadi ketua dari Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), salah satu organisasi kemasyarakatan Tionghoa Indonesia yang terbesar yang didirikan pada tahun 1998. Organisasi ini merupakan organisasi sosial etnis Tionghoa pertama era pasca-Soeharto yang memiliki anggota berlatar pendidikan Tionghoa dan Indonesia di Jakarta.


Jumat, 07 September 2018

Han Lim Kwang

Indonesian struggle cannot be separated from the help of various groups of people, one of which is the Chinese community. Chinese citizens' struggle for Indonesian independence is no different from the struggle of other tribes. During the war of independence from 1945-1949 many fighters of Chinese descent were involved in fighting against the Dutch at the front, back line, or in the Dutch occupied territories. The veterans were found in a number of regions, such as East Java, Central Java, West Java, Jakarta, Sumatra and other regions in Indonesia.

One of them is Han Lim Kwang (Han Lian Kuang, 1911-1962), Ham Lim Kwang born in 1911 on Hainan Island, Kwangtung. Ham Lim Kwang has long lived in Makassar. His son remembers Han as a helpless man to the Dutch colonialists, because they oppress and exploit the people of Indonesia. in only helping Indonesian independence, Han opened a coffee shop which turned out to be the center of a secret meeting of the Makassar guerrillas from the Republican Tiger unit, where Han was also a member. Han died in December 1962 and his body received military honor from the Makassar Veterans Corps. But there are still many more who have not revealed their services.

Source: https://nicolawijaya.blogspot.com/2018/09/han-lim-kwang.html

Han Lim Kwang

perjuangn indonesia tidak terlepas dari bantuan berbagai golongan masyarakat yang salah satunya itu adalah masyarakat Tionghoa. Perjuangan warga Tionghoa untuk kemerdekaan Indonesia tidak berbeda dengan perjuangan suku-suku yang lain. Semasa perang kemerdekaan 1945-1949 banyak pejuang keturunan Tionghoa yang terlibat dalam pertempuran melawan Belanda di garis depan, garis belakang, ataupun di daerah pendudukan Belanda. Para veteran tersebut ditemui di sejumlah daerah, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, Sumatera dan daerah lain di Indonesia.

Salah satunya adalah Han Lim Kwang (Han Lian Kuang, 1911-1962),Ham Lim Kwang lahir pada tahun 1911 di Pulau Hainan, Kwangtung. Ham Lim Kwang sudah lama menetap di Makassar. Puteranya mengenang Han sebagai seorang yang bentji kepada kaum kolonialis Belanda, karena mereka menindas dan menghisap rakyat Indonesia. dalam ushanya membantu kemerdekaan Indonesia Han membuka warung kopi yang ternyata dijadikan pusat pertemuan rahasia gerilyawan Makassar dari kesatuan Harimau Republik, dimana Han juga merupakan salah satu anggotanya. Han wafat di bulan Desember 1962 dan jenasahnya mendapatkan kehormatan militer dari Korps Veteran Makassar. Namun masih banyak lagi mereka yang belum diungkap jasanya.


Sumber : https://nicolawijaya.blogspot.com/2018/09/han-lim-kwang_7.html